Pemikiran Sayyid Qutb

Posted by Imam Sahal On Jumat, 07 Januari 2011 0 komentar

MAKALAH POLITIK PEMIKIRAN TOKOH ISLAM SAYYID QUTB
A. Pemikiran Politik Sayyid Qutb

Setelah kepulangannya ke Mesir, Sayyid Qutb sering mengkritik pemerintahan Gamal Abdul Naser. Menurutnya, Mesir pada saat itu secara social politik berada pada tingkat kebobrokan, ini diakibatkan oleh undang-undang yang berlaku di mesir sangat bertentangan dengan jiwa kebudayaan manusia dan agama. Selain itu undang-undang yang berlaku tidak sesuai dengan kondisi social dan geografis, karena menurutnya, secara kultur masyarakat mesir sangat berbeda dengan barat yang sekuler, dan lebih dekat dengan tradisi Islam.

Berdasarkan beberapa kritiknya, undang-undang yang menurutnya ternyata berdampak sistemik terhadap pemerintahan dan aplikasinya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, maka menurutnya, mendirikan pemerintahan yang didasarkan atas dasar ideology nasionalisme arab telah gagal, karena meniru barat yang mencoba memisahkan agama dan masyarakat.

Namun sayyid Qutb tidak saja mengkritik pemerintahan mesir yang terkesan sekuler pada saat itu, namun juga memberikan solusi dengan menyodorkan Islam sebagai satu-satunya ideology yang Sholih li kulli zaman wal makan, menurutnya Islam mempunyai jawaban untuk segala problem social dan politik, selain itu islam juga memiliki konsep untuk menciptakan masyarakat yang harmonis.[1]

Maka dari itu, menurut Sayyid Qutb, Islam harus menguasai pemerintahan guna menjamin kesejahteraan yang merata, dan memberikan bimbingan dalam hal-hal kebijaksanaan umum, serta berusaha melaksanakan pandangan-pandangan dan nilai-nilainya.[2] Karena Suatu ideology tidak dapat dilaksanakan dalam kehidupan, kecuali apabila diwujudkan dalam suatu system social khusus dan ditranformasikan menjadi undang-undang yang menguasai kehidupan.[3]

Dalam pandangan Sayyid Qutb, Islam adalah way of life yang komprehansif. Islam adalah ruh kehidupan yang mengatur sekaligus memberikan solusi atas problem sosial-kemasyarakatan. Al-Qur`an dalam tataran umat Islam dianggap sebagai acuan pertama dalam pengambilan hukum maupun mengatur pola hidup masyarakat karena telah dianggap sebagai prinsip utama dalam agama Islam, maka sudah menjadi sebuah keharusan jika al-Qur`an dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada. Berdasar atas asumsi itulah, Sayyid Qutb mencoba melakukan pendekatan baru dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur`an agar dapat menjawab segala macam bentuk permasalahan. Adapun pemikiran beliau yang sangat mendasar adalah keharusan kembali kepada Allah dan kepada tatanan kehidupan yang telah digambarkan-Nya dalam al-Quran, jika manusia menginginkan sebuah kebahagiaan, kesejahteraan, keharmonisan dan keadilan dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Karena secara tegas Sayyid Qutb menyatakan bahwa menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami nash-nash Al-qur’an tentang peristiwa-peristiwa alam, sejarah kemanusiaan, dan hal-hal gaib, berarti menggunakan sesuatu yang terbatas terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan, Allah yang maha mutlak lagi tidak terbatas.[4]

Selain itu, Islam merupakan satu-satunya ideology yang konstruktif dan positif, lebih sempurna dari agama Kristen dan komunisme, yang melampaui semua tujuan mereka dalam mencapai keseimbangan dan kesejahteraan masyarakat.[5]

Dalam bukunya Mu’allim fi Al-thariq ia menjelaskan tujuan politik yaitu menciptakan keselarasan antara hukum Tuhan dan hukum alam dan menyingkirkan segala pertikaian, karena Islam menginginkan kepemimpinan yang lurus, kebaikan dan kesejahteraan Ummat.[6]

Sedangkan visi politik dalam pandangan Sayyid Qutb adalah (1) Politik tiada lain adalah menciptakan keserasian Ilahiah dan dunia, dan (2) Berpolitik berarti menangkap secara intuitif pengetahuan tentang kebenaran mutlak.[7]

Dalam bukunya Al-Adalah al-Ijtimaiyyah fi al-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam) Qutb tidak menafsirkan Islam sebagai sistem moralitas yang usang. Tetapi, ia adalah kekuatan sosial dan politik konkret di seluruh dunia Muslim. Di sini Qutb melawan Ali Abd al-Raziq dan Taha Hussein yang menyatakan bahwa Islam dan politik itu tidak bersesuaian. Qutb menyatakan tidak adanya alasan untuk memisahkan Islam dengan perwujudan-perwujudan yang berbeda dari masyarakat dan politik.


Dalam kitabnya yang berjudul “Sayyid Qutb: Khulâshatuhu wa Manhâju Harakâtihi", Muhammad Taufiq Barakat membagi fase pemikiran Sayyid Qutb menjadi tiga tahap:
1. Tahap pemikiran sebelum mempunyai orientasi Islam;
2. Tahap mempunyai orientasi Islam secara umum;
3. Tahap pemikiran berorientasi Islam militan.
Pada fase ketiga inilah, Sayyid Qutb sudah mulai merasakan adanya keengganan dan rasa muak terhadap westernisasi, kolonialisme dan juga terhadap penguasa Mesir. Masa-masa inilah yang kemudian menjadikan beliau aktif dalam memperjuangnkan Islam dan menolak segala bentuk westernisasi yang kala itu sering digembor-gemborkan oleh para pemikir Islam lainnya yang silau akan kegemilingan budaya-budaya Barat.
Dalam pandangannya, Islam adalah way of life yang komprehansif. Islam adalah ruh kehidupan yang mengatur sekaligus memberikan solusi atas problem sosial-kemasyarakatan. Al-Qur`an dalam tataran umat Islam dianggap sebagai acuan pertama dalam pengambilan hukum maupun mengatur pola hidup masyarakat karena telah dianggap sebagai prinsip utama dalam agama Islam, maka sudah menjadi sebuah keharusan jika al-Qur`an dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada. Berdasar atas asumsi itulah, Sayyid Qutb mencoba melakukan pendekatan baru dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur`an agar dapat menjawab segala macam bentuk permasalahan. Adapun pemikiran beliau yang sangat mendasar adalah keharusan kembali kepada Allah dan kepada tatanan kehidupan yang telah digambarkan-Nya dalam al-Quran, jika manusia menginginkan sebuah kebahagiaan, kesejahteraan, keharmonisan dan keadilan dalam mengarungi kehidupan dunia ini.

Kondisi Mesir sedang porak poranda ketika Sayyid Qutb telah kembali dari perhelatannya menempuh ilmu di negeri Barat. Saat itu, Mesir sedang mengalami krisis politik yang mengakibatkan terjadinya kudeta militer pada bulan Juli 1952. Pada saat itulah, Sayyid Qutb memulai mengembangkan pemikirannya yang lebih mengedepankan terhadap kritik sosial dan politik. Oleh karenanya, tak heran memang jika kita melihat upaya-upaya yang dilakukan Sayyid Qutb dalam tafsirnya lebih cenderung mengangkat terma sosial-kemasyarakatan.
Semoga artikel Pemikiran Sayyid Qutb bermanfaat bagi Anda.

Jika artikel ini bermanfaat,bagikan kepada rekan melalui:

Posting Komentar