makalah tafsir al qur'an

Posted by Imam Sahal On Jumat, 25 Februari 2011 0 komentar

Bab I
Pendahuluan

1. Latar belakang masalah
Al-Qur’an adalah mukjizat yang diturunkan kepada kita dengan perantara nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terdapat begitu banyak khazanah ilmu dan sumber pengetahuan. Satu ayat saja bahkan satu huruf saja dalam al-Qur’an mempunyai multi dimensi makna yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain (antara satu ayat dengan ayat lainnya/antara satu huruf dengan huruf yang lain). Al-Qur’an merupakan sumber dari segala sumber .
Dalam pembahasan ini akan diungkapkan betapa menakjubkannya al-Qur’an jika kita telusuri secara mendalam terlebih yang ditekankan di sini adalah dalam bidang ‘adad/bilangan-bilangan yang terkandung dalam al-Qur’an. Ada keterkaitan antara satu ayat dengan ayat yang lain. Keterkaitan antara lafad dengan lafad yang lain dan bahkan keterkaitan antara huruf dengan huruf yang lain. Hal itu akan menimbulkan suatu kesinambungan dan keserasian yang tanpa disadari terlebih dahulu sudah ada dalam al-Qur’an itu sendiri.
Mulai dari zaman ulama’ salaf al-Qur’an sudah dikaji dengan mendalam. Baik dari segi bahasanya, kandungan nilainya dan keserasian dalam hal lain yang ada dalam al-Qur’an.
Sejak dahulu para Ulama’ sudah menyadari tentang adanya fenomena-fenomena yang ada dalam al-Qur’an. Dan tak luput dari perhatian mereka adalah kemukjizatan al-Qur’an dalam segi ‘adadnya (bentuk bilangan). Fenomena ‘adadiy yang ada dalam al-Qur’an bukanlah menjadi temuan baru. Mereka yakin bahwa segala pemakaian bentuk huruf dan kata-kata dalam jumlah tertentu mempunyai maksud dan tujuan tertentu dalam al-Qur’an. Sehingga mereka berupaya untuk menguak rahasia yang terkandung dalam setiap jumlah huruf dan kata-kata yang ada dalam al-Qur’an agar diketahui maksud dan tujuannya.








2. Identifikasi Masalah

Dalam makalah ini diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1) Kemu’jizatan al-Qur’an dari segi angka
2) Kesempurnaan sistem angka
3) Faedah Mu’jizat angka
4) Sistem angka dalam al-qur’an
Bab II
Pembahasan

1. AL-QURAN DAN RAHASIA ANGKA-ANGKA (I'JAZ 'ADADI)

Al-Quran Al-Karim, seluruh isinya merupakan mukjizat. Simbol-simbol maknanya, yaitu lafadz-lafadznya, juga merupakan mukjizat dan ketika makna tersebut dilekatkan kepada sebuah lafadz, ia memberi makna kepada kata. Kata-kata al-Quran, dengan susunannya yang teratur pada serangkaian mukjizat terbesar ini menerangkan i’jaz al-Quran kepada kita dengan sangat jelas . Kata-¬kata dalam al-Quran, dengan sejumlah pengulangannya, juga merupakan mukjizat. Jumlah kata-kata dalam aI-Quran yang menegaskan kata-kata yang lain ternyata jumlahnya sama dengan jumlah kata-kata al-Quran yang menjadi lawan atau kebalikan dari kata-kata tersebut, atau di antara keduanya ada nisbah kebalikan atau kontradiktif. Apabila jumlah kata-kata yang ada dalam al-¬Quran merupakan mukjizat, maka begitu pula huruf-hurufnya. Jumlah-jumlah huruf tertentu dalam al-Quran, pada dasarnya, merupakan mukjizat yang agung. Mukjizat dalam al-Quran tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya, serta pengetahuan¬pengetahuan gaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam al-Quran itu sendiri. Begitu juga jumlah pengu¬langan kata dan hurufnya. Fenomena i’jaz 'adadi pada al-Quran bukanlah temuan baru, akan tetapi sudah melewati lintasan sejarah yang panjang. orang-orang yang melakukan studi tentang 'ulum al-Quran sejak dahulu sudah menyadari adanya fenomena tersebut. Mereka menyadari bahwa pemakaian huruf dan kata dengan jumlah tertentu memiliki maksud dan tujuan tertentu. Sehingga mereka berupaya menyingkap rahasia hubungan antara jumlah¬-jumlah tersebut dengan makna-makna katanya.
a. Angka Satuan Dalam Al-Qur’an
(1-2-3-4-5-6-7-8-9-0)
Allah berfirman:
 هو الذي خلقكم من نفس واحدة
 اذ أرسلنا اليهم اثنين
 يخلقكم في بطون امهاتكم خلقا من بعد خلق في ظلمات ثلث
 و برك وجعل فيها و قدر فيها اقواتها في اربعة ايام
 ويقولون خمسة سادسهم كلبهم رجما بالغيب
 و هو الذي خلق السموات والارض في ستة ايام
 فسواهن سبع سموات
 وانزل لكم من الانعام ثمانية ازواج
 في تسع ايات الى فرعون وقومه
 و اصبح فؤاد ام موسى فارغا
b. Mukjizat Numerik Pada Frasa-Frasa Al-Qur’an

Bahkan frasa-frasa al-Qur’an pun ditata Allah dalam sistem yang sangat rapi. Ini menunnjukkan keagungan al-Qur’an sebagai kitab yang sangat teratur secara keseluruhan. Huruf-huruf istimewa yang diletakkan Allah dalam kitab-Nya untuk menegaskan bahwa al-Qur’an mengandung sistem numerik yang sangat teratur yang berbasis penyebaran huruf-huruf tersebut disepanjang nash-nash al-Qur’an. Jika ditelusuri semua contoh di dalam al-Qur’an akan diperlukan banyak penelitian ilmiah. Karena itu cukup dengan beberapa contoh yang menjelaskan—tanpa keraguan—bahwa sistem numerik ini ada, sebab kebetulan tidak mungkin terus-menerus terulang.
Dalil terbesar yang mununjukkan bahwa sistem ini tidak terjadi secara kebetulan adalah¸terdapat nya angka-angka yang mengungkapkan nash-nash al-Qur’an yang memiliki makna, dan bukan sekedar angka. Misalnya terdapat frasa-frasa dari ayat yang memiliki makna yang sempuna secara linguistik, memiliki sitem numerik juga.
Pembahasan tersebut dapat diambil contoh dari dari sistem yang berbasis الم. Tentang keagungan tuhan Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat (7):
وما يعلم تأويله الا الله
Kata-kata dari frasa ini menegaskan bahwa penafsiran yang hakiki hanya diketahui oleh Allah, sedangkan umat manusia tidak mungkin mengetahui sedikitpun dari ilmunya kecuali atas kehendak-Nya. Berkat hikmah Allah beberapa rahasia al-Qur’an dapat tersinngkap pada zaman sekarangsebagai argumentasi yang kuat bagi umat muslim dalam menghadapi orang-orang yang mengngkari kebenaran al-Qur’an.
Contohnya yang tertulis pada huruf-huruf alif, lam, mim yang termaktub dalam frasa ini:

و
ما يعلم تأويله الا الله

0 2 2 2 3 3

Bilangan yang mewakili penyebaran الم pada frasa ini adalah 332220. Bilangan ini dapat dibagi sebayak 2 kali unuk menegaskan bahwa penafsiran yang absolut terhadap kitabullah hanya diketahui oleh Allah.
6780x7=47640x7=332220
Jadi bilangan ini dapat di bagi 7 sebanyak 2 kali berturut-turut. Hasil ini menegaskan kebenaran dan kecermatan sistem numerik ini, yang disimpan Allah dengan hikmah-Nya. Jadi setiap huruf yang ditulis didalam al-Qur’an sesungguhnya diletakkan oleh Allah dengan wahyu dan ilham-Nya. Jika al-Qur’an dipelajari dengan benar, maka akan ditemukan mukjizat pada setiap hurufnya. Kalau bukan karena Allah telah menjaga al-Qur’an sejak masa penurunannya hingga Hari Kiamat, maka al-Qur’an tidak akan sampai pada zaman sekarang. Karena itu, penelitian ini adlah bukti beru tentang kebenaran kalamullah .
2. Dasar al-Qur’an dan Matematis untuk Metode Menderetkan angka
Apa metode metematis yang paling tepat, yang dipilih oleh Allah untuk menjaga kitab-Nya dari perubahan? Metode ini tak ubahnya laksana stempel dan tanda-tanda Ilahi akan kebenaran firman-Nya. Itu adalah metode deretan angka-angka. Dasar metode ini dalam ilmu metematika dikenal sebagai sistem perhitungan persepuluhan. Ini merupakan pengetahuan dasar dalam matematika. Ketika menulis bilangan apapun yang tersusun dari beberapa tingkatan, maka (jumlah ) setiap tingkatan sebelumnya: satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya. Sistem ini memiliki dasar al-Qur’an, yakni dalam firman Allah tentang penggandaan pahala, “Orang yang melakukan kebaikan, akan mendapatkan ganjaran sepuluh kali lipat.” (QS. Al-An’am [6]: 160
Telah diketahui bahwa empat mekanisme perhitungan; penjumlahan, pengurangan, pengalian dan pembagian. Mekanisme penjumlahan dapat menjelaskan jumlah total huruf, ayat, atau surah, tapi tidak dapat menjelaskan perincian didalamnya.
Allah telah menyusun al-Qur’an dalam mata rantai tertentu yang tidak boleh diubah-ubah. Kajian terhadap angka-angka yang mewakili kata-kata al-qur’an juga harus mnjaga mata rantai ini. artinya, karena setiap kata dalam al-Qur’an mamiliki tempat tersendiri, maka setiap angka yang mewakilinya juga harus memiliki tempat tersendiri.
Pemilihan metode menderetkan angka, karena ia memiliki keistimewaan yang tidak ada pada metode lain. Dengan menderetkan jumlah ayat atau huruf setiap kata, dapat tetap dijaga mata rantai ayat atau kata-kata . edangkan jika dijumlahkan , maka mata rantainya kan menghilang
Dengan menderetkan jumlah huruf tiap kata¸terlihat seluruh angka itu secara langsung pada bilangan yang diperoleh. Sedangkan jika dijumlahkan, maka angka-angka itu akan tercampur dan tidak dapat dibeda-bedakan lagi. Mekanisme menderetkan angka, yakni memberikan tempat dan tingkatan bagi setiap angka, juga mengantarkan para peneliti pada jumlah angka yang sangat besar dan ini menambahkan kompleksitas mukjizat angka .
3. Sistem angka dalam al-qur’an
Allah menurunkan al-Qur’an selama 23 tahun. Ia berfirman,
انا نحن نزلنا الذكر و انا له لحافظون
“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan al-quran dan sesungguhnya kamilah yang benar-benar menjaganya”. (QS. Al-Hijr [15]:9)
Ini adalah penegasan bahwa Allah menjaga segala sesuatu di dalam kitabnya dari semua bentuk penyimpangan atau pengubahan hingga Hari Kiamat. Ini mengantarkan kita pada suatu kesimpulan bahwa susunan surah-surah Al-Qur’an berdasarkan perhatian, penjagaan dan kekuasaan Allah, kita boleh bertanya-tanya: mengapa susunan surah-surah Al-Qur’an berbeda dengan kronologi penurunannya? Kita akan melihat bahwa di balik susunan ini terkandung mukjizat yang dapat dibuktikan dengan bahasa angka.
Lewat kajian numerik ilmiah terhadap pengulangan kata-kata Al-Qur’an , kita sudah mengetahui bahwa pengulangan ini mengikuti sistem numerik yang sangat teratur. Setiap kata yang terulang dalam Al-Qur’an didasarkan pada sistem yang sangat cermat, sehingga jika satu kata berubah, maka sistem yang sangat indah ini akan berantakan.
Para peneliti terdahulu sudah mencatat, bahwa surat-surat yang dibuka dengan huruf-huruf ‘Muqaththa’ah’ berjumlah 29 surat, sementara jumlah huruf ‘Hijaiyah’ Arab ditambah dengan huruf “Hamzah” juga berjumlah 29 huruf hal ini dengan sudut pandang bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.
DR. Abdul Razaq Naufal dalam bukunya berjudul “Al’Ijaz Al’Adadiy Fi Al-Qur’an Al Karim” beliau menulis beberapa dari tema-tema tersebut terjadi keharmonisan diantara jumlah kata-kata Al-Qur’an dan berikut ini adalah sejumlah perhitungan yang benar-benar merupakan Mukjizat, dari jumlah kata dalam Al-Qur’an sebanyak 51.900, Jumlah Juz 30, Jumlah Surat 114, keanehan yang ada. Berikut adalah sebagian dari contoh-contoh rahasia dari pengungkapan bilangan yang menakjubkan yang ada dalam al-Qur’an :
• Kata ‘Iblis” ( La’nat ALLAH ‘alaihi ) dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 11 kali, sementara “Isti’adzah” juga disebutkan 11 kali, Kata “ma’siyah” dan derivatnya disebutkan sebanyak 75 kali, sementara kata “Syukr” dan derivatnya juga disebutkan sebanyak 75 kali.
• Kata “al-dunya” disebutkan sebanyak 115 kali, begitu juga kata “al-akhirah” sebanyak 115 kali.
• Kata “Al-israf” disebutkan 23 kali, kata kebalikannya “al-sur’ah” sebanyak 23 kali.
• Kata “Malaikat” disebutkan 88 kali, kata kebalikannya ‘Al-syayathin” juga 88 kali.
• Kata “Al-sulthan disebutkan 37 kali, kata kebalikannya “Al-nifaq” juga 37 kali.Kata “Al-harb”(panas) sebanyak 4 kali, kebalikannya “ Al-harb” juga 4 kali.
• Kata “ Al-harb (perang) sebanyak 6 kali, kebalikannya “Al-husra” (tawanan) 6 kali.
• Kata “Al-hayat” (hidup” sebanyak 145 kali, kebalikannya “Al-maut” (mati) 145 kali.
• Kata “Qalu” (mereka mengatakan) sebanyak 332 kali, kebalikannya “Qul” ( katakanlah) sebanyak 332 kali.
• Kata “Al-sayyiat” yang menjadi kebalikan kata “Al-shahihat” masing-masing 180 kali.
• Kata “Al-rahbah” yang menjadi kebalikan kata “Al-ragbah” masing-masing 8 kali.
• Kata “Al-naf’u” yang menjadi kebalikan kata “Al-fasad” masing-masing 50 kali.
• Kata “Al-nas” yang menjadi kebalikan kata “Al-rusul” masing-masing 368 kali.
• Kata “Al-asbath” yang menjadi kebalikan kata “Al-awariyun” masing-masing 5 kali
• Kata “Al-jahr” yang menjadi kebalikan kata “Al-alaniyyah” masing-masing 16 kali
• Kata “Al-jaza” 117 kali ( sama dg kebalikannya),
• Kata “Al-magfiroh” 234 kali ( sama dengan kebalikannya),
• Kata “Ad-dhalala” ( kesesatan) 191 kali ( sama dengan kebalikannya),
• Kata “Al-ayat” 2 kali “Ad-dhalala” yaitu 282 kali. Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini.
• Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk tunggal disebutkan sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada tahun Syamsyiyyah.
• Kata “Syahr” ( bulan) sebanyak 12 kali, sama dg jumlah Bulan dalam satu Tahun.
• Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk plural (jamak) sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu Bulan.
• Kata “Sab’u” (minggu) disebutkan 7 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu minggu.
• Jumlah “ sa’ah” (jam) yang didahului dengan ‘harf’ sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari.
• Kata “Sujud” disebutkan 34 kali, sama dengan jumlah raka’at dalam solat 5 waktu
• Kata “Shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumlah solat wajib sehari semalam.
• Kata “Aqimu” yang diikuti kata “Shalat” sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah Raka’at Sholat fardhu/ wajib.
1) Tujuh langit
Ternyata kata sab’u dalam al-Qur’an itu berkaitan dengan kata samaawat. Kata tersebut disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak tujuh kali. Sama halnya seperti jumlah hari yang ada dalam seminggu yakni berjumlah tujuh, langit juga disebutkan berjumlah tujuh tingkatan. Di bawah ini adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan samaawat :
- ..... Dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikannya tujuh langit ..... (Al-Baqarah: 29)
- Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah ..... (Al-Isra: 44)
- Katakanlah: "Siapakah yang memiliki tujuh langit dan 'arasy yang besar" (Al-Mu'minun: 84)
- Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit urusannya ..... (Fushshilat: 12)
- Allah-lah Yang menciptakan tujuh langit dan reperti itu pula bumi ..... (AI-Thalaq: 12)
- Yang telah menjadikan tujuh langit berlapis-lapias. (AI-Mulk: 3)
- Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? (Nuh: 15)

2) Perintah mendirikan shalat
Dalam kata fi’il amr “aqim” (dirikanlah) yang mempunyai arti wajib diamalkan/dikerjakan diikuti dengan kata “shalat” dalam disebutkan bahwa dalam al-Qur’an itu berjumlah tujuh belas. Sama halnya dengan bilangan jumlah raka’at shalat fardlu perhari yakni tujuh belas raka’at juga. Yang mendukung hal demikian juga disebutkan dalam al-Qur’an kata fardh juga sebanyak tujuh belas. Berikut adalah adalah ayat-ayat yang memuat kata aqiim beserta turunan katanya :

- Dan aqimu shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'-lah beserta orang-orang yang ruku'. (Al-Baqarah: 43).
- .... Aqimu shalat dan tunaikanlah zakat .... (Ali Imran: 83).
- Dan aqimu shalat dan tunaikanlah zakat ... (AI-Baqarah: 110).
- .... "Tahanlah tanganmu dari berperang, aqimu shalat dan tunaikanlah zakat. " (An-Nisa: 77).
- .... Kemudian apabila kamu telah merasa aman maka aqimu shalat sebagaimana biasa .... An-Nisa: 103).
- .... Agar kamu aqimu shalat serta bertaqwa kepada-Nya .... (Al-An'am: 72).
- .... Dan aqimu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman. (Yunus: 87).
- Dan aqimu shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebahagian permulaan malam ... (Yunus: 78).
- Aqimu shalat dari setelah tergelincir matahari sampai gelap malam .... (Al-Isra: 78).
- ....Dan aqimu shalat untuk mengingat Aku. (Thaha: 14).
- .... Maka aqimu shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kepada tali Allah .... (Al-Haj: 78).
- Dan aqimu shalat, dan tunaikanlah zakat .... (Al-Nur: 56).
- .... Dan aqimu shalat .... (Al-Ankabut: 45).
- .... Serta aqimu shalat, dan janganlah kamu termasuk orang¬-orang yang menyekutukan Allah. (Al-Rum: 30)
- Wahai anakku, aqimu shalat dan suruhlah (manusia) untuk mengerjakan kebajikan .... (Luqman: 18).
- .... Maka aqimu shalat .... (AI-Mujadilah: 13).
- Dan aqimu shalat, tunaikanlah zakat .... (AI-Muzammil: 20).

3) Shalat lima waktu
Dalam al-Qur’an juga disebutkan kata shalawat lima kali. Hal ini sama dengan jumlah shalat fardhu harian kita yakni subuh, dluhur, ashar, maghrib dan isya’. Dibawah ini ayat-ayat yang menyebutkan kata shalawat :

- Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna (shalawat) dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 157).
- Peliharalah shalat-(mu), dan (peliharalah) shalat wurtha ....(Al-Baqarah: 298).
- .... Dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan shalawat Rasul .... (At-Taubah: 99)
- .... Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat Yahudi dan shalat dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah .... (Al-Haj: 40}.
- Dan orang-orang yang senantiasa menjaga shalawat (shalat¬-shalat) mereka. (Al-Mukminun: 9).

4) Duabelas khalifah setelah rasulullah wafat
Rasulullah SAW pernah berkata bahwa agama islam tetap akan tegak sampai hari kiamat dengan dipimpin oleh dua belas imam. Dalam al-Qur’an ada yang mendukung jumlah imam duabelas di atas. Kata imam beserta turunan katanya disebutkan dalam a-Qur’an sebanyak duabelas kali. Seperti ayat-ayat berikut :

- Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia."Ibrahim berkata: "Dan saya memohon juga dari keturunanku." Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim." (Al-Baqarah: 124)
- .... Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ..... (Hud: 17)
- .... Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
- Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat .....Al-Ahqaf: 12)
- .... Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)
- .... Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)
- (Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)
- .... Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
- Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ...... (AI-Anbia: 73)
- ..... Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin¬pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
- Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
- Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ..... (Al-Sajdah: 24)

5) Mi’raj dan jumlah langit
Kata ‘araja dalam berikut dengan turunan katanya disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak tujuh kali, sesuai dengan jumlah langit yang ada. Perlu diketahui, bahwa kata tersebut digunakan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan arti perjalanan jauh menembus luar angkasa dan gravitasi bumi. Ayat yang menyebutkan kata tersebut yaitu :

- Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) (ta'ruju) kepada Tuhan ..... (AI-Ma'arij: 4).
- ... Kemudian (urusan) itu naik (ya'ruju) kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (Al-Sajdah: 5).
- Dia mengetahui apa yang masuk ke bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik (ya'ruju) kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang Lagi Maha Pengampun. (Saba': 2).
- Dia Mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik (ya'ruju) kepada-Nya. Dan Dia bersama Kamu di mana saja kamu berada ..... (Al-Hadid: 4).
- Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit maka mereka terus-menerus naik (ya'rujun) kepada-Nya. (AI-Flijr: 14).
- Tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Maha Pemurah, loteng-loteng perak bagi rumah tinggal mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang bssa mereka naiki (ma'ariji). (AI-Zukhruf: 33).
- .(Yang datang) dari Allah, Pemilik tempat-tempat naik (ma'arij). (Al-Ma'arij: 3).


Yang telah disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil saja dari ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung i’jaz a’dadiy. Ada begitu banyak ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung i’jaz-i’jaz a’dadiy.
Allah SWT dengan segala keagungan-Nya telah mengaturya dengan sedemikian rupa segala macam hal yang ada didunia ini. Dengan begitu teliti menciptakan Al-Qur’an yang saling berkaitan ayat-ayatnya, lafad-lafadnya dan juga huruf-hurufnya. Tiap lafadz dari ayat Al-Qur’an berkaitan dengan segala hal bila kita dapat menemukannya.

4. Faedah Mu’jizat angka

Apa gunanya mempelajari mu’jizat angka dalam al-Qur’an? Bukankah sudah banyak ilmu dalam al-Qur’an, seperti fiqh, ibadah, hukum, kisah, dan tafsir yang lebih pantas diperhatikan.
Kita harus meneliti sumber utama arus sikap masyarakat, termasuk ulama dan peneliti, yang mendeskreditkan mu’jizat angka dalam al-Qur’an. Kita semua mengetahui urgensi bahasa angka dizaman sekarang, era teknologi angka, dimana bahasa angka teah menguasai berbagai hal yagn ada disekitar kita. Karena al-Qur’an barlaku untuk setiap waktu dan tempat, maka kita pasti dapat menemukan mu’jizat angka yang menantang setiap ilmuan abad ke-21 ini.
Orang-orang yang menyangka mu’jizat angka tidak berguna, tidak mengikuti perkembangan zaman dan biasanya mereka bukan ahli matematika. Jadi bagaimana mungkin orang yang tidak menguasai matematika mengkritik mu’jizat matematis di dalam kitabullah?
Mukjizat angka adalah metode beru dalam mendakwahkan kitabullah yang sesuai untuuk zaman sekarang. Tujuannya adalah untuk menambah keimanan seorang mukmin, sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah, “ Agar orang-orang yang beriman itu bertambah imannya.” (QS. Al-Muddatstsir [74]: 31)
Mukijzaat ini hanyalah untuk meneguhkan keimanan seorang mukmin dan menam bah keyakianan terhadap kitabullah agar ia tidak meragukan aspek apapun dari risalah ilahi, sebaaiman dinyatakan dalam firman Allah di atas, “Agar orang yang diberi kitab dan kaum mukmin tidak ragu.”
Lalu bagaimana reaksi orang yang tidak beriman terhadap al-Qur’an dan tidak menghargai mu’jizat ini? kelanjutan ayat di atas menjelaskan sikap mereka,”Agar orang yang hatinya sakit dan orang kafir berkata, “Apa yang dikehendaki Allah dengan menjadikan bilangan ini sebagai perumpamaan?” inikah sikap orang kafir, mereka akan tetap dalam kekafirannya dan berjumpa dengan Allah dalam keadaan tersebut.
Dalam hal apa pun sikap berlebihan harus dindari. Para peneliti mukjizat angka sering terlihat terlalu fokus pada angka, membesar-besarkan kesimpulan yang mereka peroleh dan melupakan aspek-aspek mu’jizat lainnya, seperti keindahan bahasa dan kandungan hukumnya. Ini berlebih-lebihan.
Fenomena ini ada dan berasalan. Penelitian-penelitian tentang mukjizat angka dalam al-Qur’an tidak mengandung persamaan atau angka apa pun selain angka surah dan ayat. Pekerjaan ini sangat sulit dan menuntut pelakunya mendidekasikan seluruh waktu, tenaga dan usahanya untuk penelitiannya itu.
Pekerjaan ini semakin berat karena tiada referensi untuk ilmu yang baru berkembang ini. meski demikian kita harus yakin mukjizat-mukjizat al-Qur’an tidak terpisah satu sama lainnya. Mukjizat angka adalah kelanjutan dari mukjizat balaghah, karena keduanya berbasis huruf dan kalimat. Selain itu, makna-makna ayat di dalamnya pun sering kali menuntun kita untuk menemukan mukjizat angka.
Ada manfaat lain dari kajian ini, yaitu untuk menyadarkan kita bahwa manusia tidak mungkin membuat mukjizat semacam ini. orang yang tidak berpengalaman menghitung huruf dan mengobservasi kata-kata al-Qur’an akan berkata, bukankah setiap orang dapat menyusun kata-kata yang memperhatikan pengulangan huruf-huruf dengan mudah. Jadi, dimana aspek mukjizatnya?
Di hadapan kitabullah, kita memiliki dua kriteria, yaitu linguistik dan numerik. Kita tidak menemukan kekurangan atau pertentangan dalam bentuk apapun pada bahasa dan balaghah al-Qur’an dari awal hingga akhirnya. Pada waktu yang sama, kita juga tidak mnemukan pertentangan dalam aspek numerik. Demikianlah al-Qur’an adalah kitab yang sangat teratur dari segi bahasa dan angka.



Bab III
Penutup
Kesimpulan
1. Kemukjizatan al-Qur’an dari segi angka ialah dalam mengungkap segala rahasia yang terkandung.
2. Semua bilangan yang terkandung dalam al-Qur’an mengandung hubungan antara satu huruf atau bilangan dengan huruf atau bilangan lainnya.
3. Ilmu matematika merupakan sumber dari perkembangan ilmu-ilmu modern.
4. Mukjizat angka merupakan metode baru dalam mendakwahkan kitabullah yang sesuai dengan zaman sekarang.
5. Penelitian-penelitian tentang mukjizat angka dalam al-Qur’an tidak mengandung persamaan atau angka apapun selain angka surah dan ayat.
6. Merenungkan kata, ayat dan huruf al-Qur’an dari sisi angka adapat membuat orang lebih hafal dan mengingat ayat tersebut.pembaca al-Qur’an dapat mengetahui bahwa seringkali jumlah huruf yang tertulis tidak sama dengan jumlah huruf yang dilafalkan.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Kahil, Abd ad-Da’im, Misteri Angka 7, Sahara Instains, Jakarta, 2008.
Al-Fattah, Muhammad Hatta, Keajaiban Angka Dalam Al-Qur’an, Mirqat, Jakarta, 2010.
An-Najdi, Abu Zahra, Al-Qur’an dan Rahasia Angka-Angka, Pustaka Hidayah, Bandung,1990.
Semoga artikel makalah tafsir al qur'an bermanfaat bagi Anda.

Jika artikel ini bermanfaat,bagikan kepada rekan melalui:

Posting Komentar