TAFSIR AL-MISHBAH

Posted by Imam Sahal On Kamis, 07 April 2011 0 komentar

TAFSIR AL-MISHBAH
MUTTAQUUN (AL-BAQARAH: 2)
Taqwa artinya menghindar.
Orang yang bertaqwa adalah orang yang menghindar. Yang di mksud oleh ayat ini (albaqrah; 2) mencakup pada 3 tingkat penghindaran.
1. Menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah.
2. Berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya.
3. Yang tertinggi, adalah menghindari dari segala aktivitas yang menjauhkan pikiran dari Allah.
Dalam hal ini yang dimksud orang bertaqwa adalah yang mempersiapkan jiwa mereka untuk menerima petunjuk atau yang telah mendapatkannya tetapi masih mengharapkan kelebihan, karena petunjuk Allah tidak terbatas.

Taqwa bukanlah satu tingkat dari ketaatan kepada Allah, tetapi ia adalah penamaan bagi orang yang beriman dan mengamalkan amal shaleh. Seorang yang mencapai puncak ketaatan adalah orang yang bertaqwa, tetapi yang belum mencapai puncaknya pun, bahkan yang belum luput sama sekali dari dosa, juga dapat dinamai orang bertaqwa, walaupun tingkat ketaqwaannya pun belum mencapai puncak. Taqwa adalah nama yang mencakup semua amal-amal kebajikan. Siapa yang mengerjakan sebagian darinya, maka ia telah menyandang ketaqwaan.
Orang-orang bertaqwa diliputi oleh dua macam hidayah: hidayah yang lahir dari kesucian jiwa mereka dan hidayah petunjuk al-Qur’an. Orang kafir dan munafik yang kotor jiwanya berada dalam kesesatan pertama, selanjutnya akibat kesesatan itu, mereka enggan menerima petunjuk Allah, sehingga kesesatan mereka semakin menjadi-jadi bagaikan mendapat kesesatan tambahan.


INNALLAZIINA KAFARU (AL-BAQARAH; 6-7)
Orang-orang yang kafir adalah orang-orang yang menutupi tanda-tanda kebesaran Allah dan kebenaran yang terhampar dengan jelas di alam raya ini, adlah yang meeka yang dalam pengetahuan Allah tidak akan mungkin beriman seperti Abu Jahel, Abu Lahab dan lain-lain, sama saja bagi mereka apakah engkau Muhammad dan umatmu member peringatan kepada mereka atau tidak member peringatan kepada mereka tetap tidak akan beriman hingga masa datang.
Ayat ini seperti terbaca di atas, bukan berbicara tentang semua orang kafir, tetapi orang kafir yang kekufurannya telah mendarah daging dalam jiwa mereka sehingga tidak lagi mungkin akan berubah. Ayat ini menunjuk kepada mereka yang keadaannya telah diketahui Allah sebelum, pada saat, dan sesudah datangnya ajakan beriman kepada mereka. Pengetahuan Allah tentang kepastian tidak bergunanya peringatan bagi mereka bukanlah sebab yang menjadikan mereka tidak beriman. Bukankah seorang guru dapat mengetahui bahwa siswa yang malas, dan bodoh pasti tidak akan lulus? Pengetahuan tersebut bukan penyebab ketidaklulusan, tetapi penyebabnya adalah kebodohan dan kemalasan sang siswa. Nah, untuk orang-orang kafir yang dimaksud oleh ayat ini, penyebabnya adalah keengganan mereka menerima iman sehingga Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, yakni Allah membiarkan mereka larut dalam kesesatan sesuai dengan keinginan hati mereka sendiri, sehingga akhirnya hati mereka terkunci mati dan dan telinga mereka tidak dapat mendengar bimbingan. Dan pada penglihatan mereka pun ada penutup, sehingga tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di alam raya, tidak mereka lihat kecuali fenomenanya saja.
Al-Qur’an menggunakan istilah kufur untuk berbagai makna. Sementara ulama menguraikan lima macam kekufuran, yaitu apa yang mereka namakan kufr juhud yang terdiri dari dua macam kekufuran;
1. Mereka yang tidak mengakui wujud Allah, seperti halnya orang-orang ateis dan orang-orang komunis,
2. Mereka yang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya, antara lain karena dengki dan iri hati kepada pembawa kebenaran itu.
Para ulama menyebut kufur yang ketiga dengan istilah kufr ni’mah dalam arti tidak mensyukuri nikmat Allah, seperti antara lain yang diisyaratkan oleh firmannya: “kalau kamu bersyukur pastilah Ku tambah untuk kamu (nikmat-Ku) dan bila kamu kafir, maka sesungguhnya siksa-Ku pastilah amat pedih” (QS. Ibrahim 14: 7).
Kufur keempat adalah kufur meninggalkan atau tidak mengerjakan tuntunan agama kendati tetap percaya. Ini seperti firma-Nya: “apakah kamu percaya kepada sebagian Al-Kitab dan kafir terhadap sebagian lainnya?” (QS. Al-Baqarah: 85) dan yang kelima adalah kufur bara’ah dalam arti tidak merestui dan berlepas diri, seperti firman-Nya, mengabadikan ucapan nabi Ibrahim kepada kaumnya: “kami telah kafir kepada kamu dan telah jelas antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya”(QS. Al-Mumtahanah: 4). Kekufuran dapat terjadi antara lain kerena ketidaktahuan atau melakukan pengingkaran terhadap wujud Allah, Tuhan yang maha Esa, atau melakukan suatu tindakan atau ucapan atau perbuatan yang disepakati oleh ulama –berdasar dalil-dalil yang pasti dari al-Quran dan Sunnah— bahwa tindakan tersebut identik dengan kekufuran, seperti misalnya menginjak-injak al-Quran, sujud kepada berhala dan lain-lain. Semantara ulama mendefinisikan kekufuran dengan “pelanggaran khusus terhadap kesucian Tuhan, akibat ketidaktahuan tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, atau akibat kedurhakaan kepada-Nya.
Agar lebih spesifik dalam mengkaji tafsiran mengenai kalimat kufur maka perlu di compare antara kata allazina kafaru(fiil madhi) dengan yakuru (fiil mudhari).
WAYAKFURUNA BIMA WARARA’AHU (Al-Baqarah: 91)
yakni mereka kafir kepada al-Quran karena bukan berasal dari Nabi Musa yaitu kitab Taurat, kalimat ini tidak dimasukkan al-Quran dalam ucapan mereka, ini hanya komentar Allah dan bukan merupakan ucapan mereka, karena mereka tidak mengucapkan seperti itu.


1. Kata taqwa itu adalah sebuah tingkatan ketaatan atau sebuah penamaan (predikat) bagi orang yg beriman?
2. Orang yahudi dan onco konco itu merefers kemana? Apakah orang orang yg sekarang juga masih termasuk?
3. Iman itu ckup meyakini saja atau perlu aplikasi?
4. Maksud nya beramal soleh itu gmn si? Apa dengan bermoral baik sudah amalus solih?
5. Kenapa khotama kafir?
MIMMA? Sedikit nya tu kadar nya seberapa?
Semoga artikel TAFSIR AL-MISHBAH bermanfaat bagi Anda.

Jika artikel ini bermanfaat,bagikan kepada rekan melalui:

Posting Komentar