KONTEKSTUALISASI IMAN DALAM TINJAUAN KEKINIAN

Posted by Imam Sahal On Kamis, 07 April 2011 0 komentar

KONTEKSTUALISASI IMAN DALAM TINJAUAN KEKINIAN

Jika kita coba membaca fenomena-fenomena yang terjadi pada zaman ini banyak sekali kejadian-kejadian yang miris, seperti kejadian yang baru-baru ini kita dengar bahwa pada hari Rabu kemarin tepatnya tanggal 16 Maret pukul 16.00 telah ditemukan bayi laki-laki yang dibuang ke tempat pembuangan sampah tepatnya di Pasar Ramai Jalan Asia Medan yang diduga bayi tersebut merupakan hasil hubungan gelap sepasang kekasih. Kemudian ada juga kasus lain yang sangat memalukan sekali tepatnya di Bandung Barat pada tanggal 16 Maret bahwa seorang janda muda tewas setelah meminum miras oplosan dengan kadar alkohol 70persen dan dioplos dengan suplemen. Pelaku tersebut diduga tewas setelah merayakan pesta miras beserta empat kawannya. Jika sepintas saja kita renungkan pada kejadian-kejadian seperti ini tentu hal-hal yang tidak berprikemanusiaan ini tidak akan terjadi pada perilaku orang-orang beriman yang menyimpan teguh asma Allah dalam hatinya dan selalu menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat menjauhkan dirinya dari mengingat Alllah.


Dalam sumber hukum Islam telah sering diungkapkan pentingnya menjaga diri dari perbuatan keji dan munkar, Al-Quran pun telah menawarkan bahwa shalat merupakan salah satu ibadah yang dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak dikehendaki oleh Allah. Namun dalam kenyataannya shalat yang seperti apa dulu yang dapat berkhasiat menjaga prilaku dari hal-hal munkar sekecil apapun. Telah disinggung dalam Al-Qur’an dalam surat al-Mukminun: 2
     
Di era globalisasi ini bahkan dari dulu kala kekerasan telah menjadi suatu kebudayaan, berbagai kekerasan telah merebah di seluruh aspek kehidupan. Seperti yang telah dikemukakan oleh Pangeran S Naga P dalam artikelnya yang berjudul Kekerasan Sebagai Budaya bahwa perkembangan zaman dengan lahirnya istilah-istilah baru seperti globalisasi, modernisasi, dan istilah-istilah lainnya tidak mampu menggeser kekerasan dari ranah kehidupan sosial manusia. Kekerasan intelektual, kekerasan ekonomi, kekerasan dalam bidang agama, dan kekerasan-kekerasan lainnya seakan-akan memiliki “hak paten” untuk hidup dan berkembang bersama manusia. Kekerasan yang telah membudaya ini dapat dibuktikan dengan beberapa peristiwa yang tengah terjadi di Indonesia saat ini, seperti kasus yang telah dikemukakan di atas dan masih banyak lagi kasus-kasus yang mencerminkan ketidaktakutan dan ketidaksopanan diri muslim pada Sang Pencipta. Dan kekerasan ini pun dapat kita saksikan bahwa pelaku mayoritas bukan dari kalangan non-Muslim tapi kaum Muslim sendiri yang kita tahu bahwa setiap prilakunya tentu mesti disesuaikan dengan ajaran-Nya dan kehendak-Nya.
Prilaku yang sudah tidak asing lagi adalah bobroknya moralitas bangsa Indonesia yang sangat mengkhawatirkan saat ini terutama di kalangan para pemuda Indonesia yang menjadi pemegang peranan terpenting bagi kemajuan suatu bangsa. Terbukti dalam berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada tahun 2000 di Indonesia diperkirakan sekitar dua juta aborsi terjadi. Dari jumlah tersebut terdapat 38% yang pernah menikah dari lulusan Sekolah Menengah. Namun penelitian baru-baru ini ditemukan bahwa terdapat 54% klien aborsi adalah lulusan Sekolah menengah 21% lulusan akademik atau universitas, dan 87% dari klien aborsi yang tinggal di perkotaan sudah menikah. Dari kenyataan seperti ini pantas saja al-Qur’an telah memberi ancang-ancang bahwa Muslim mesti mampu menjaga kehormatannya, seperti yang telah di singgung dalam al-Qur’an dalam surat al-Mu’minun: 5
Banyak sekali persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia dari berbagai aspek, baik itu moralitas, politik, ekonomi, dll. Mengenai perekonomian bangsa Indonesia tingkat kemiskinannya semakin mengkhawatirkan. Dapat dilihat dari data resmi, angka kemiskinan di Negara Indonesia mencapai 36 juta jiwa, atau 16,4% dari jumlah penduduk Indonesia dan dengan jumlah pengangguran mencapai sekitar 28 juta atau 12,7% dari total penduduk. Sebenarnya penyebab kemiskinan di Indonesia ini merupakan potret dari kemiskinan struktural , artinya kemiskinan yang disebabkan bukan karena lemahnya etos kerja, melainkan karena disebabkan oleh ketidakadilan sistem. Sehingga butuh adanya mekanisme yang mengalirkan kekayaan dari kelompok masyarakat yang mampu kepada kelompok masyarakat yang tidak mampu. Zakat, merupakan salah satu solusi yang ditawarkan oleh Islam yang terangkum dalam rukun Islam. Dalam seminarnya Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin, MSc, yang bertema kan “Zakat Sebagai Tiang Utama Ekonomi Syari’ah” beliau menawarkan sebuah konsep zakat. Dari segi pembangunan kesejahteraan umat, zakat merupakan salah satu alat untuk untuk pemerataan pendapatan atau menurut AM. Saefuddin dikenal dengan konsep economic growth with equity. Zakat, menurut Mustaq Ahmad, adalah sumber utama kas negara sekaligus merupakan soko guru dari kehidupan ekonomi yang dicanangkan Al-Qur’an. Zakat akan mencegah terjadinya akumulasi harta pada satu tangan, dan pada saat yang sama mendorong manusia untuk melakukan investasi dan mempromosikan distribusi. Zakat juga merupakan institusi yang komprehensif untuk distribusi harta, karena hal ini menyangkut harta setiap muslim secara praktis, saat hartanya telah sampai atau melewati nishab.
Menginfakkan harta demi kebaikan dan kebajikan merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Menginfakkan harta diwajibkan karena terkait dengan kemashlahatan bangsa.\, Negara dan agama serta ditujukkan untuk mengentaskan kemiskinan. Harta benda merupakan sumber kecintaan atau yang senantiasa yang didambakan oleh setiap insan. Mereka juga diperintahkan mencitai Allah swt. Dengan jiwa keimanan. Kesudian mereka untuk berinfak dijadikan sebagai barometer kecintaan mereka kepada-Nya, disamping ujian ketulusan terhadap hdakwah-Nya kepada mereka. Sebab semua yang dicitai, akan akan dikorbankan seseorang kepada kekasih yang sangat memikat hatinya.



Semoga artikel KONTEKSTUALISASI IMAN DALAM TINJAUAN KEKINIAN bermanfaat bagi Anda.

Jika artikel ini bermanfaat,bagikan kepada rekan melalui:

Posting Komentar