Cerita Saja

Posted by Imam Sahal On Rabu, 14 September 2011 0 komentar

PANDANGAN YANG MENIPU
Iqamah berkumandang. Aku berdiri bersama jama’ah lainnya. Sambil merapatkan shaf shalat, tatapanku terhenti pada bapak berpakaian biru lusuh didepanku. Saat yang lain sibuk meluruskan shaf, dia acuh tak acuh saja. Shaf di depan bapak tersebut kosong. Namun bapak ini diam saja.
“Wah keterlaluan dari tadi diam saja, masa untuk mengisi shaf saja malas. Sombong banget bapak ini” bisik hatiku.
Bapak yang lebih muda disampingnya maju dan merapatkan shaf mengisi shaf kosong itu. Sedangkan bapak baju lusuh ini dari tadi hanya bergerak gerak dikit. Disebelah kanannya ada celah renggang. Harusnya bapak ini menggeser kakinya agar celah itu tertutup dengan badannya. Namun dia diam saja.
“ Bener-bener zaman sekarang, orang tua saja sudah malas merapatkan shaf, apalagi anak mudanya, wajar kalo gitu” kembali hatiku bergumam kesal.
Imam pun takbir dan shalat dimulai. Pikiran ku aku pusatkan pada Sang Pencipta. Setelah rakaat demi rakaat berlalu, imam membaca salam tanda shalat usai. Satu demi satu jama’ah mulai keluar mesjid. Bapak baju lusuh ini belum juga beranjak pergi. Lalu ada anak kecil seumuran anak SD menghampirinya (mungkin anaknya) lalu membimbing si bapak berdiri. Aku terkejut bukan main saat si bapak membalikkan tubuhnya. Baru kusadar kalau ternyata bapak baju lusuh ini buta. Astagfirullah.
Mesjid Al Husna, Sembego, shalat Jum’at
Ramdhani

SORBAN MERAH
Sudah menjadi kebiasaan di pondokku saat ada santri baru biasanya santri yang lebih senior akan menunjukan eksistensinya. Maka kini kesempatan aku dan kawan-kawan yang naik ke strata sosial tinggi di pondok (yaitu kelas 6) untuk menjahili santri baru. Kala itu, penerimaan santri baru telah usai. Proses keseharian mulai berjalan seperti biasa. Hingga pada suatu shalat jama’ah niat usil ku muncul. Aku shalat pada shaf ketiga dari depan. Di depan ku ada santri yang melilitkan sorban merah dibahunya. Di pondokku, yang lazim memakai sorban merah hanya para kiai saja. Bahkan ustadz-ustadz pun segan untuk memakainya. Dan saat ini, didepanku dengan santainya ada santri yang memakainya.
“wah perlu dikasih pelajaran santri baru yang satu ini” pikirku.
Ketika shalat usai aku minta kerjasama teman disampingku. Mereka malah melarangku dengan isyarat tangan.
“pengecut!” seruku dalam hati.
Maka dengan penuh percaya diri aku menarik sorban merah itu hingga membuat si santri terjengkang kebelakang. Namun alangkah terkejutnya aku, saat aku lihat wajahnya ternyata dia putra sulung kiyai pondokku yang baru datang dari luar negeri. Sontak jama’ah yang ada di masjid itu tergelak. Wualah. Niatnya menjahili, malah kena batunya.
Sembego, dipenogoro
Ramdhani
Semoga artikel Cerita Saja bermanfaat bagi Anda.

Jika artikel ini bermanfaat,bagikan kepada rekan melalui:

Poskan Komentar