tour to semarang

Posted by Imam Sahal On Rabu, 14 September 2011 0 komentar


Kamis, 08 september 2011 motor vega zr tercnta membawa saya ke kota semarang. Melewati rute yogya-magelang-secang-tumenggung-ambarawa-semarang membuat saya terkagum-kagum. Jalan lintas kabupaten ini alhamdulillah dalam kondisi lumayan nyaman walau banyak titik-titik kemacetan terutama kawasan pasar tumpah.
Menemani teman yang dulu mondok di salah satu pesantren di semarang menjadi tujuan saya kali ini. Berbekal petunjuk teman, kami berdua akhirnya sampai di salah satu pondok besar di semarang, yayasan ponpes futuhiyah. Memori saya serasa kembali ke masa silam, melihat kndisi pesantren tradisional yang sangat khas. Santri berpeci dan sarungan yang begitu mencolok. Pesantren ini memang sudah mengalami kemajuan dalam bidang fisik bangunan dan proses pembelajran, namun suasana salafiyah (tradisional-red) masih sangat terasa.
Pemberhentian pertama kami adalah salah satu ustadz dari teman saya tsb sewaktu Mts ( setara SMP-red). Bapak ustadz Shodikin, menyambut saya dengan senym ramah dan hangat. Tak ketinggalan tawa putri kecilnya yang baru berumur 5 tahun membuat siang itu terasa ramai. Disela-sela menikmati kue khas lebaran yang disuguhkan, pak shodikin mulai bercerita perjuangan y mendirikan ponpes miliknya, ponpes shiddiqiyah. Ternyata dibalik senyum y yang ramah tersembunyi keras y kerja keras beliau di mranggen ini. Usaha pertama y mendrikan ponpes tidak bisa dibilang mudah. Setelah mendapat restu dri kyai-kyai tempat beliau brgru, bermodal kesederhanaan akhirnya sebuah ponpes kecil berdiri. Alhamdulillah santri-santri y berdatangan dari berbagai daerah di jawa. Di usia y yang menginjak 38 tahun, usia yang terbilang muda, beliau berhasil meluluskan beberapa angkatan. Namun, ujian allah mendera y. Setelah angkatan ke 5 santri y mulai surut. Faktor jarak ke sekolah jadi problem santri y. Akhir y sampai sekrang pndok y berkurang.
Meski begitu, saya bisa menangkap semangt y yg brkobar-kobar itu tidak padam. Malah smkin membara. Diantara prcakapan y yang campur campur antara bhsa indo dan jawa, pak shodikin dg berapi-api meneguhkan azam y utk trs berjuang. Menyediakan lahan utk mencri ilmu, begitu kelakar y.
Sebelum kami pamit, doa tulus y mengiringi kami mengangkat doa mengharap ridho tuhan semesta alam. Ilmu yg mamfaat, adlah harapan setiap pencari ilmu. sesaat sebelum melewati pintu keluar, tangan y meraih pundak saya, “mas ini dari mana?” di sela senyum yang tersungging di bibir y. “ciamis pak” sambut sya.
Trasa indah sore itu. Kami meninggalkan rumah pak shidikin dengan harapan smoga cita cita beliau dikabulkan allah. Amin.
Lembayung langit mengringi perjalanan kami selanjut y. Kali ini memasuki kawasan ponpes futuhiyah. Letak y yg di tengah kota membuat lokasi y trasa sempit. Rancangan bangunan hampir keseluruhan y mengarah k atas. Lantai 3 rata-rata. Setelah shalat ashar d sebuah mesjid kecil yg blum rampung d bangun, kami masuk ke rmh ustadz tman sya tsb. Ustadz yg kali ini dlu mngajar di Mts tman sya. Rmh y sngt sdrhana. Tak ada ruang tamu nan megah bertahta kursi sofa impor luar negeri. Atau mngkn perabotan keramik kiriman kolega d luar negeri. Yang ada dsini hanyalah sebuah ruangan berukuran 5x4 meter yang dialasi karpet kasar warna hijau. Karpet yg biasa y dipakai bapak2 d pos ronda. Suara ustad ini halus hampir tak terdengar. Senyum y tak prnah hilang dari bibir y yang mulai layu di terpa waktu. Sembari membuka toples2 berisi kue khas lbran bibir y tak henti2 y melafadzkan dzikir. Wajah sya trtunduk. Malu akan semua dosa yg tlah trtumpuk.
“Sugeng Riyadi..” kata itu mengawali prbncangan kami. Selebih y obrolan bhs jawa yg dominan. Sya brusaha menyimak mncri arti dri bhsa jwa yg berhamburan di depan saya. Inti y mengenai qira’ah dlm al qur’an. Lelaki kharismatik ini lebih menyarankan agar kami bisa muqtadhal hal. Bisa kontektual, sesuai kondsi, psikologi, waktu dan tempat. Arti y qara’ah bgus dan bisa d bca jika audiens nya faham dan tahu. Sebalik y jika d hadapan masyarakat awam, yang terjadi adalah kesalah fahaman dan perselisihan. Orang berilmu trkdang dianggap gila olah orang yg tidak sekufu dg y. Dg kata lain tdk semua ilmu mesti kita berikan pada khalayak umum. Alih-alih mendapat sambutan ramah, malah fitnah dan kekacauan yg merajalela. Selain itu sikap beliau sama seperti umum y kyai dulu, tdk mau mencela tndakan ulama besar. Krn bagi beliau selalu ada sisi lain yg tdk diketahui oleh kita. Ibarat nabi musa dan nabi khidir.
Beliau berpesan pd kami bahwa tdk ada mantan guru dan murid. Sama jg tdk ada mantan anak dan orang tua. Semua harus mnjaga tali silaturahim, komunikasi yg baik dan ta’dzim trhdp semua guru. Meniru ali bin abi thalib, “siapapun yg prnah mengajrkan suatu ilmu pd q walau cuma satu hruf, dia adalah guru bagi q”.
Selepas brcengkrama sekian menit, kami melanjutkan prjalanan. Rumah teman di desat terdekat jadi pilihan. Prut kami yg sudah keroncongan dari siang sudah minta jatah makanan. Beruntung kawan kami ini dg baik dan dermawan menghidangkan semangkuk besar sayur dan sup lengkap dg lontong y. Niat saya utk makan sebanyak2 y urung saat melihat tman2 disitu makan cuma dua potong lonthong kecil. Pdhal prut ini memelas utk nambah lagi. Kebiasaan d pondok kalau makan gak cukup satu kali. Namun saya penasaran dg tindakan tman2, maka sya ikutan saja.
Shalat magrib kami lakukan d msjd trdekat. Brjalan trlebih dahulu mlewati lautan tanaman tembakau. Sungguh pengalaman luar biasa bisa melihat dri dekat tembakau yg di panen lalu di iris2 dg pisau besar nan tajam lalu di jemur berhari-hari. Aroma y yg khas jemuran ini berbeda dg aroma tembakau yg sudah ada di pasaran. Sya sampai berlama-lama mendekatkan hidung yg kembang kempis ke hasil jemuran mbako, begitu orang2 disitu memanggil y.
Bgitu sampai d rmh tman kami yg kedua ini barulah sya tahu knp tmen2 tadi mkan hanya sdikit. Trnyta sudah jd kelaziman jika bertandang k rmh2 biasa y wajib dan lazim utk makan. Untung kami tadi makan tdk terlalu banyak, jadi perut masih bisa menampung makanan yg ada selanjut y.
Mnjelang isya kami mampir d rmh tman kami yg trnyata seorang Gus alias anak kyai. Tentu saja jamuan kali ini brbeda dg kedua tman kami sbelum y. Jika sbelum y kami disambut dg kue-kue khas produksi tuan rumah sndiri, kali ini kue-kue kaleng dan supermarket berjejer d meja. Memang kontras sekali rasa y. Tak ketinggalan panganan khas keluarga kyai yaitu kurma madinah ikut memeriahkan meja tamu.
Si Gus sndri mendekati saya dan mulai bertutur sepenggal kisah y mnjadi Gus. Dia dg mata yg berbinar-binar menceritakan keberhasilan y menciptakan metode membaca al qur’an yang berbeda dg dua metode sebelum y, yaitu metode iqra’ dan metode qiraati yg sempat booming. Metode yg diciptakan si Gus lebih menekankan pd kitabah atau menulis. Tnpa mengesampingkan sisi urgen membaca tentu y.
Pemberhentian kami selanjut y adalah ndalem kyiai futuhiyah yg mrupakan cucu dari sang pndiri pondok tsb bertahun-tahun silam. Tak banyak yg beliau sampaikan. Hanya sedikit kritik trhdp kehidupan yang semakin tak beraturan. Keprgian kami dri rumah beliau di iringi dgh doa yg bgitu panjang. Somga doa beliau yg senantiasa berjuang d jalan allah dikabulkan oleh sang maha pemurah. Amin.
Sowanan kmi sudahi dg mengunjungi kyai Ipur, bgitu beliau akrab disapa. Dg kndsi fisik yg sudah jauh brubah dibanding usia muda dlu, bliau ttp ramah mnyambut kami walau jam sudah larut malam. Kisah beliau dimulai dri usaha y menerapkan kdisiplinan d ponpes futuhiyah. Santri dlu yg sarungan mulai beralih menuju celana panjang berkat kerja keras beliau. Kebiasaan mengenakan sandal jepit bhkan ketika ke sekolah pun mulai ditinggalkan. Kegigihan beliau dalam kedisiplinan dan ketepatan waktu trnyata berbuah hasil. Kini semua santri rapi dg seragam lengkap plus sepatu. Disisi lain bahkan pelajar-pelajar dari luar negeri misal y india, jepang, dan negara lainnya yang py hubungan baik dg ponpes futuhiyyah sering melakukan student exchange.
Menjelang pukul 10 malam, kami meninggalkan rumah beliau. Walau terkesan kasar dan killer, kami tahu dibalik semua itu hati kyai Ipur jauh lebih lembut dari kami semua. Doa beliau kembali melantun di keheningan malam. Trsa khusuk saat hati kami mendengar kata-kata pinta y pada sang Rabb terucap syahdu.
Akhir y tbuh yang lelah nan penat ini terbaring di kamar 2x3meter yg merupakan bekas kamar teman saya mondok dlu. Rasa y enak sekali kalau udah py istri yg shalihah dg setia memijit tbuh yg kecapaian. Mimpi itu hanya tersangkut di langit-langit kamar yang menjadi medan laga mengais rezeki bagi para nyamuk yg penuh ambisi. Mereka tertawa-tawa menikmati darah saya yg terkapar tanpa perlindungan. Akhir y malam itu mnjadi penderitaan dan kenikmatan bagi saya menikmati satu malam di semarang, ndemak, mranggen.
Adzan shubuh cukup untuk membangunkan saya. Sayang tubuh yg lemas ini meilih untuk ttp meringkuk menikmati sensasi ngantuk yg merayap-rayap. Sampai ketukan ustadz yng mengawasi asrama tempat sya menginap terdengar. Malu sebagai tamu dg terhuyung-huyng saya menuju mesjid. Bagai anak durhaka pada ibu y, sya shalat tnpa gairah. Sungguh memalukan.
Menuju sang surya naik tahtanya. Sya memutuskan utk kembali k jogja pagy itu juga. Meninggalkan semarang yang mulai berbekas di benak sya. Yah. Vega zr ini kembali membelah jlanan menanjak dan menikung kota semarang. Melewati ambarawa yg dlu membara. Menyaksikan ponpes syekh puji yg dlu gempar gara-gara menikahi gadis kecil. Melewati jalur magelang yang pernah dilalui lahar dingin merapi. Akhir y masuk kembali d kota gudeg, daerah yg istimewa dg a dan pengukuhan. Ngayogyakarto hadiningrat.
Selesai sudah perjalanan singkat yang menguras energi namun menambah khazanah emosi, instuisi, dan inspirasi. Sesuatu yg tdk ada di bangku kuliah. Namun berserakan d sekitar kita. Ilmu yg sering disepelekan. Kata mutiara yg dikesampingkan. Pepatah dan amanah yg dilupakan. Itulah ilmu jiwa. Semarang akan jadi salah satu kota yg pernah menghias memori ini. Suatu saat saya akn kembali berkunjung. Dg mimpi dan asa yg telah nyata. Amin.
Semoga artikel tour to semarang bermanfaat bagi Anda.

Jika artikel ini bermanfaat,bagikan kepada rekan melalui:

Poskan Komentar