"Tukang Service"

Posted by Imam Sahal On Rabu, 14 September 2011 0 komentar

Pasca lebaran, jalan-jalan lintas provinsi sampai jalan kampung diwarnai dengan “tukang service” jalanan yang rusak. Biasanya bermodalkan cangkul, serokan, gundukan tanah, batu secukupnya, dan yang terpenting Sair (alat buat nangkap ikan) untuk menerima uang jasa. Dengan adanya mereka, memang jalan yang rusak sedikit ada perbaikan. Lubang-lubang aspal ditutup dengan tanah. Namun justru sebenarnya tindakan itu tidak tepat. Sebab dengan ditutup tanah maka lubang makin besar saat terkena air hujan. Ibarat gigi yang berlubang, ditutup lubangnya dengan coklat, seperti bagus padahal makin memperparah lubang itu. Selain itu tindakan mereka yang menghadang kendaraan yang lewat cukup meresahkan. Bagaimana tidak, perjalanan lumayan terganggu dengan hal tersebut. Bahkan jika dijalan lintas provinsi hal itu biasa menyebabkan kemacetan. Ditambah dengan oknum yang tidak sekadar “meminta” namun lebih kepada “memaksa” uang jasa alias uang receh. Biasa nya para pengemudi dengan sedikit “terpaksa” melemparkan uang mereka lewat jendela. Pemerintah dan pihak berwajib seharusnya cepat tanggap dan segera menangani kasus ini. Kalau dibiarkan berlarut-larut maka akan manjadi tradisi yang selalu diulangi. Sampai saat ini belum ada antisipasi dan pencegahan yang riil dari pemerintah. Maka pada suatu kesempatan saya berkendara melewati segerombolan para “tukang service” ini, timbul niat saya untuk melakukan tindakan mencegah kasus ini berlarut-larut. Saya mau mendamprat habis-habisan mereka dengan segala jiwa dan raga. Namun teman yang saya bonceng menahan “tangan” saya. Dia dengan gaya Aa Gymnya yang islami dan syar’i (sesuai syariah) banget berkata: “Kawan, apakah kamu tahu kenapa mereka melakukan perbuatan yang kamu benci? Apa mereka benar-benar melakukannya karena keinginan mereka? Cobalah kawan kau tanya mereka. Kalau bukan karena keadaan dan kondisi mereka yang tidak seberuntung kita, tentu mereka tidak akan melakukan itu. Mereka pun tahu hukumnya melakukan perbuatan itu. Namun karena istri dan anak mereka yang menangis kelaparan mereka melakukan hal itu. Demi sesuap nasi. Jangan selalu menyalahkan orang lain. Cobalah kamu yang berada diposisi mereka, tindakanmu tidak akan jauh berbeda. Memahami orang lain butuh dengan kacamata mereka, jangan ukur dengan pandanganmu sendiri. Andai kamu benar-benar tulus atas nama hati nurani dan kebenaran mau meluruskan bukan dengan cara merebut dan menghilangkan usaha mereka. Beri mereka modal usaha, beri mereka lapangan pekerjaan, beri mereka nasihat agama, beri mereka softskills yang berguna niscaya mereka akan dengan mudah meninggalkan hal tersebut. Semua akan selesai dengan berlapang dada. Jika kamu menghentikan mereka dengan paksa, kamu telah mengambil modal usaha orang lain. Apa bedanya dengan penyamun? Bukankah Nabi dulu, ketika umatnya dalam keadaan tidak punya beliau memberi apa yang ada. Kefakiran bisa mendekatkan pada kekufuran. Orang lapar bisa melakukan apa saja dan melakukan hal yg tidak benar. Orang yang dihimpit kemiskinan bisa beringas dan mencari pelarian atas kemiskinannya. Makanya umat islam harus kaya. Kaya yang barokah. Agar saudara-saudaranya yang tengah lupa dibantu dan ditolong dengan bantuan moril, materil, dan spiritual. Jika kamu menyadarkan mereka dengan paksaan maka yang dihasilkan adalah “kesadaran yang terpaksa”. Dan itu tidak akan bertahan lama. Tapi lihatlah Sayyidina Umar bin Khattab yang sadar atas hati nurani sendiri, walau hatinya sekeras baja seberingas singa, dia luluh dan beriman seiman-imannya. Jika kita pukul anak kita karena kesalahannya yang terjadi adalah dia akan emosi menahan rasa sakit dan memikirkan dendam untuk membalas pukulan itu. Pukulan akan menghasilkan pukulan kembali. Tidak akan selesai. Niat kita yang sebenarnya mulia terkotori pukulan itu. Andai hati anak kita yang kita sadarkan ia akan luluh, dan berbalik 180 derajat. Nabi kita dengan begitu sabar mengajak kaum quraisy ke jalan Allah walau beliau dilempari kotoran, dilempari batu sampai kakinya berdarah, diembargo sampai kelaparan. Coba Nabi tidak sabar, minta saja pada Allah untuk memerintahkan malaikatnya melemparkan gunung untuk “memusnahkan” dan menghancurkan kemunkaran orang quraisy. Tapi hal itu ditolak Nabi. Nabi ingin umatnya selamat. Api jika dibalas dengan api akan makin berkobar. Dan membakar apa yang ada disekitarnya(orang-orangyang tidak tahu menahu) walaupun tidak ikut “bakar-bakaran”. Korbanlah yang akan berjatuhan.orang-orang yang ada disekitar kita, lembaga, keluarga akan jadi korban. Jadi sebelum kau bisa memberi usaha lain bagi “tukang service” ini, bersabarlah dulu. Ingatkan mereka. Jika sudah punya uang, beri mereka modal usaha maka jalan ini akan sepi dari tindakan itu. Tugas Jasa Marga atau Jasa Raharja lah yang mengurus jalan yang akan memperbaiki jalan ini. Semua selamat toh.” Saya terpana mendengar obrolan teman saya tersebut. Emosi saya yang sudah meluap-luap dan terbakar tiba-tiba mendingin. Rasanya tentram mendengar penjelasan kawan tersebut. Tiba-tiba kawan saya tersebut turun dari motor dan merogoh uang disakunya, jelas dimataku uang yang dia berikan ke tangan “tukang service” itu berwarna merah. Ya ampun dua ratus ribu coyyy! Sambil memberi penjelasan dia tersenyum. Si “tukang service” manggut-manggut dan ikut tertawa dengan teman saya. Lah tiba-tiba mereka bubar barisan dari jalan. Saya takjub atas keberhasilan kawan saya. “Cuy, hebat bener kau. Apa yang kau bilang tadi ama mereka?”. “ya aku bilang, supaya mereka berhenti dan menafkahi istri merka dengan modal itu. Akan jauh lebih barokah gt. Yee mereka ngerti juga dan ngaku khilaf. Sambil terisak mereka ngucapin makasih. Gt.” Saya bertanya lagi “Emangnya itu uang dua ratus ribu gak papa diberikan sama mereka? Dermawan banget. Hehe”. “Kan uang itu uangmu yang aku pinjem tadinya mau aku lunasin. Jadi aku bayar sama kamunya seratus ribu aja ya. Itu juga aku cicil alias kredit gk pake bunga selama setahun ya”. Badanku lemas, bener-bener nih temen jahilin saya. Ya tapi gak papa. Semua butuh proses toh?? Gak ada yang instan langsung jadi. Hanya Tuhan yang bisa “kun fayakun”. Maka bersabarlah.

Semoga artikel "Tukang Service" bermanfaat bagi Anda.

Jika artikel ini bermanfaat,bagikan kepada rekan melalui:

Poskan Komentar